Pengaruh Terapi Kombinasi ACE - Inhibitor dan Diuretik terhadap Fungsi Ginjal dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi dengan Gagal Jantung Di Rumah Sakit Jantung Kota Tasikmalaya

Penulis

  • Anis Riyanti Department of Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya, 46196, Indonesia
  • Dichy Nuryadin Zain Department of Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya, 46196, Indonesia
  • Anisa Pebiansyah Department of Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya, 46196, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.35814/jifi.v24i2.2187

Kata Kunci:

ACE-inhibitor, Diuretik, Fungsi ginjal, gagal jantung, Kualitas hidup

Abstrak

Hipertensi merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya gagal jantung dan memerlukan penatalaksanaan yang efektif untuk mencegah perburukan kondisi klinis. Terapi kombinasi ACE inhibitor dan diuretik umum digunakan untuk mengendalikan tekanan darah serta mengurangi gejala kongesti. Namun, fungsi ginjal dan kualitas hidup pasien tetap perlu dipantau. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan fungsi ginjal, menggambarkan kualitas hidup, serta menganalisis hubungan antara perubahan fungsi ginjal dan kualitas hidup pada pasien hipertensi dengan gagal jantung yang menerima terapi kombinasi ACE inhibitor dan diuretik. Penelitian observasional ini menggunakan pendekatan retrospektif dan potong lintang. Sebanyak 65 pasien rawat jalan di Rumah Sakit Jantung Kota Tasikmalaya selama periode Januari hingga Maret 2026 dipilih menggunakan teknik total sampling. Data fungsi ginjal yang meliputi ureum, kreatinin, dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) diperoleh dari rekam medis, sedangkan kualitas hidup dinilai menggunakan Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perubahan fungsi ginjal yang bermakna setelah terapi, yang ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin dan ureum serta penurunan eGFR, dengan nilai p<0,005. Sebagian besar pasien memiliki kualitas hidup kategori sedang, yaitu sebanyak 60 pasien (92%). Analisis korelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perubahan kadar kreatinin, ureum, maupun eGFR dan kualitas hidup. Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi kombinasi ACE inhibitor dan diuretik berkaitan dengan perubahan fungsi ginjal, tetapi perubahan tersebut tidak berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup pasien.

Referensi

[1] WHO. 2025. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension. cited 2026 Jul 10.

[2] K. RI, Buku Pedoman Hipertensi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024.

[3] M. Nurhidayah, A. J. Saleh, and D. W. Astuti, “Asupan Natrium dan Stres sebagai Faktor Risiko Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Talang Jawa,” J. Kesehat. Cendikia Jenius, vol. 1, no. 2, pp. 2–7, 2024.

[4] X. Huang, L. Hu, Z. Long, X. Wang, J. Wu, and J. Cai, “Hypertensive Heart Disease: Mechanisms, Diagnosis and Treatment,” Rev. Cardiovasc. Med., vol. 25, no. 3, 2024, doi: 10.31083/j.rcm2503093.

[5] M. Susanti, R. Y. Triyana, and Nurwiyeni, “Penyuluhan Dan Sosıalısası Hıpertensı Pada Lansıa Dı Aur Kunıng Bukıttınggı Sumatera Barat,” J. Abdimas Saintika, vol. 5, no. 2, pp. 25–29, 2023, [Online]. Available: https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

[6] G. Gallo and C. Savoia, “Hypertension and Heart Failure: From Pathophysiology to Treatment,” Int. J. Mol. Sci., vol. 25, no. 12, 2024, doi: 10.3390/ijms25126661.

[7] S. Anita and Indrawati, “Hubungan Kepatuhan Mınum Obat Hıpertensı Dengan Perubahan Tekanan Darah Pada Lansıa Dı Posyandu Lansıa,” J. Keperawatan, vol. 1, pp. 52–61, 2024.

[8] B. Shahim, C. J. Kapelios, G. Savarese, and L. H. Lund, “Global Public Health Burden of Heart Failure: An Updated Review,” Card. Fail. Rev., vol. 9, no. Icd, 2023, doi: 10.15420/cfr.2023.05.

[9] P. K. Whelton, R. M. Carey, G. Mancia, R. Kreutz, J. D. Bundy, and B. Williams, “Harmonization of the American College of Cardiology/American Heart Association and European Society of Cardiology/European Society of Hypertension Blood Pressure/Hypertension Guidelines: Comparisons, Reflections, and Recommendations,” Circulation, vol. 146, no. 11, pp. 868–877, 2022, doi: 10.1161/CIRCULATIONAHA.121.054602.

[10] M. Jannah, B. Abdul, and M. Syahrul Ningrat, “Pembatasan Caıran Dan Pemberıan Dıuretık Untuk Mengurangı Edema Pada Pasıen Acute Decompensated Heart Faılure (ADHF),” Politek. Kesehat. Makassar, vol. 15, no. 1, pp. 2087–2122, 2024.

[11] Y. Pintaningrum, A. Utamayasa, M. A. Rahman, T. Ontoseno, and K. A. A. P. Pramana, “Peranan ACE-Inhibitor pada penyakit jantung bawaan,” Sasambo J. Pharm., vol. 4, no. 2, pp. 69–76, 2023, doi: 10.29303/sjp.v4i2.240.

[12] C. Caiati, R. Arrigoni, A. Stanca, and M. E. Lepera, “Kidney Toxicity of Drugs for the Heart: An Updated Perspective,” Metabolites, vol. 15, no. 3, 2025, doi: 10.3390/metabo15030191.

[13] WHO, Quality of Life, 03 ed. English: World Health Organization, 2022. doi: 10.4324/9781003217572-6.

[14] A. M. Gallagher, R. Lucas, and M. R. Cowie, “Assessing health-related quality of life in heart failure patients attending an outpatient clinic: a pragmatic approach,” ESC Hear. Fail., vol. 6, pp. 3–9, 2019, doi: 10.1002/ehf2.12363.

[15] S. D. Solomon et al., “Angiotensin–Neprilysin Inhibition in Heart Failure with Preserved Ejection Fraction,” N. Engl. J. Med., vol. 381, no. 17, pp. 1609–1620, 2019, doi: 10.1056/nejmoa1908655.

[16] Dinas Kesehatan Kota Tasikmala, Profil Kesehatan Kota Tasikmalaya 2023 Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. 2023.

[17] G. Lippi and F. Sanchis-gomar, “Global epidemiology and future trends of heart failure,” AME Med. J., vol. 5, no. 15, pp. 1–6, 2020, doi: 10.21037/amj.2020.03.03.

[18] K. Kang, Q. Wang, Y. Li, C. Liu, H. Yu, and N. Li, “Global and Chinese perspectives on the growing burden of heart failure : trends , gender , and age-related differences ( 1990 – 2021 ) based on GBD 2021 data,” BMC Cardiovasc. Disord., vol. 25, no. 510, pp. 1–11, 2025.

[19] L. L. Khuzaima and Sunardi, “Hubungan Tingkat Pendidikan terhadao Kepatuhan Minuman Obat Antihipertensi di Puskesmas Sewon II Periode Januari 2021,” AKFARINDO, vol. 6, no. 2, pp. 15–21, 2021.

[20] P. M. C. Simanjuntak, V. F. F. Joseph, and V. G. X. Rooroh, “Hubungan Riwayat Merokok Aktif terhadap Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri pada Pasien Gagal Jantung,” e-Clinic, vol. 14, no. 1, pp. 143–149, 2026.

[21] I. T. Nursyifa and C. Tarigan, “ACE- inhibitor pada HFrEF dan HFpEF,” Indones. Nurs. J. Educ. Clin., vol. 4, no. 1, pp. 13–18, 2024.

[22] D. H. P. Sihombing, N. C. I. Polii, and A. L. Panda, “Penggunaan Mineralocorticoid Receptor Antagonist pada Heart Failure Reduced Ejection Fraction,” e-CliniC, vol. 9, no. 2, pp. 379–387, 2021.

[23] KDIGO, “KDIGO 2024 Clınıcal Practıce Guıdelıne For The Evaluatıon And Management,” Off. J. Int. Soc. Nephrol., vol. 105, no. 4, 2024.

[24] A. Pascayantri, E. Wahyudin, and H. Kasim, “Kajıan Penggunaan Captoprıl Dan Ramıprıl Terhadap Parameter Fungsı Gınjal Pada Pasıen CHF,” Maj. Farm. dan Farmakol., vol. 22, no. 3, pp. 73–75, 2018.

[25] E. F. A. Lestari, Susilowati, and O. D. H, “Evaluasi efektivitas antihipertensi pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronis di rawat inap rsud kota madiun,” Duta Pharma J., vol. 1, no. 2, pp. 25–31, 2021.

[26] F. S. Irawan and M. Ludong, “Gambaran fungsi ginjal pada lansia Panti Wreda Salam Sejahtera berdasarkan estimated glomerular filtration rate ( eGFR ),” Tarumanagara Med. J., vol. 2, no. 2, pp. 244–251, 2020.

[27] N. Pudiarifanti, Dewa Pramantara, and Z. Ikawati, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhı Kualıtas Hıdup Pasıen Gagal Jantung Kronık,” J. Manaj. dan Pelayanan Farm., vol. 5, no. 4, pp. 259–266, 2020.

[28] Y. Made, P. A. L. Berek, M. F. W. . Fouk, C. Anugrahini, C. Saputra, and M. Alimansur, “Gambaran Karakterıstık Dan Kualıtas Hıdup Pasıen Gagal Jantung Kongestıf Dı RS X, Atambua,” J. Ilmu Kesehat., vol. 13, no. 2, pp. 229–237, 2025.

[29] T. A. McDonagh et al., “European Society of Cardiology (ESC) Guidlines for the Diagnosis and Treatment of Acute and Chronic Heart Failure,” Eur. Soc. Cardiol., vol. 42, pp. 3599–3726, 2021, doi: 10.1093/eurheartj/ehab368.

[30] PERKI, Pedomam Tatalaksana penyakit gagal jantung. Indonesia: Perhimpunan Dokter spesialis Kardiovaskular (PERKI), 2023. [Online]. Available: http://www.nber.org/papers/w16019

[31] H. Nursita and A. Pratiwi, “Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung: A Narrative Review Article,” J. Ber. Ilmu Keperawatan, vol. 13, no. 1, pp. 10–21, 2020, doi: 10.23917/bik.v13i1.11916.

[32] B. Żółkowska et al., “Clinical and Psychological Factors Associated with Frailty in Patients with Heart Failure,” J. Clin. Med., vol. 13, no. 7345, pp. 1–13, 2024, doi: 10.3390/jcm13237345.

[33] D. A. Pratama, S. A. Nasution, M. Muhadi, A. Mansjoer, and I. Alwi, “Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung Kronik Fraksi Ejeksi Terjaga ( HFpEF ) Rawat Jalan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo,” J. Penyakit Dalam Indones., vol. 11, no. 1, 2024, doi: 10.7454/jpdi.v11i1.1553.

[34] L. Wu, M. Rodriguez, K. El Hachem, and C. Krittanawong, “Diuretic Treatment in Heart Failure : A Practical Guide for Clinicians,” J. Clin. Med., vol. 13, pp. 1–30, 2024, doi: https://doi.org/10.3390/jcm13154470.

Diterbitkan

2026-08-31

Terbitan

Bagian

Articles