Studi Penilaian Klinis Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis

Penulis

  • Mita Restinia UNIVERSITAS PANCASILA ,
  • Henny Lucida UNIVERSITAS ANDALAS ,
  • Wasif Gillani S SCHOOL OF PHARMACEUTICAL SCIENCE, USM MALAYSIA ,

DOI:

https://doi.org/10.35814/jifi.v15i2.521

Kata Kunci:

penyakit ginjal kronis, antibiotik, penilaian klinis

Abstrak

Sebuah studi prospektif longitudinal 6 minggu dilakukan untuk menilai efektivitas dan antibiotik keamanan yang digunakan pada pasien penyakit ginjal kronis (CKD) di bangsal pengobatan internal. Kami membandingkan jumlah darah putih dan tingkat fi ltrasi glomerulus sebelum dan sesudah antibiotik digunakan. Pasien CKD yang dirawat di bangsal penyakit dalam dan usia ≥18 tahun dimasukkan dalam penelitian ini. Pasien dengan data laboratorium yang tidak lengkap dan terapi penggantian ginjal dikeluarkan dalam penelitian ini. 25 pasien yang terdaftar dalam penelitian ini direkrut. Jenis kelamin mayoritas CKD adalah laki-laki (64%), rata-rata usia adalah 61,52 ± 14,17 tahun dengan lamanya tinggal (LOS) adalah 6,92 ± 4,05 hari. Jumlah pasien terbanyak adalah pada CKD stadium 3 (n = 10, 40%) dan diikuti oleh CKD tahap 2 (n = 6, 24%). Sebagian besar dari mereka didiagnosis menderita radang paru-paru. Tablet azitromisin (n = 16, 64%) kemudian Cefotaxime injeksi intra vena (IV) (n = 6, 24%), dan Ceftazidime IV (n = 5, 20%), Cloxacillin IV (n = 4, 16%) adalah antibiotik yang paling diresepkan. Umumnya pasien telah diberi dosis antibiotik yang tepat dan 88% dari mereka menunjukkan peningkatan jumlah darah putih. Sebaliknya, tingkat fi ltrasi glomerulus dari 44% pasien CKD semakin buruk. Kesimpulannya, penelitian ini jelas menunjukkan pasien CKD memerlukan pemantauan ketat terhadap pemeliharaan fungsi ginjal bahkan antibiotik telah diresepkan dengan tepat.

Referensi

Diterbitkan

2017-09-30

Terbitan

Bagian

Articles